Bagaimana berakhlak kepada Allah
Kajian Ustadzah Fatimah Assegaf, 07 Juni 2025
Pernahkah terpikir bagaimana bersikap kepada Allah sebagai seorang hamba?
Ketika kita berinteraksi dengan manusia, kita selalu berusaha menjadi yang terbaik di hadapan manusia lainnya. Menjaga adab dan akhlak kepada mereka, agar kita dapat diterima dalam lingkungannya.
Lalu, pernahkah kita berpikir bagaimana adab dan akhlak kita kepada Allah? Tuhan yang menciptakan kita dan semua manusia di muka bumi ini?
Sesungguhnya akhlak itu lebih utama daripada ilmu. Meskipun ilmu itu juga penting. Namun ilmu tanpa akhlak tidaklah baik untuk diaplikasikan ke dalam kehidupan.
Mengapa?
Setan/iblis juga memiliki ilmu. Ilmunya begitu tinggi karena ibadahnya kepada Allah sepanjang tahun selama 3000 tahun. Namun karena rasa sombong (kurang baiknya akhlak, ia menjadi mahluk yang dimurkai oleh Allah SWT) .
Untuk itu mengapa ahlak menjadi penting selain ilmu.
Sesungguhnya akhlak kita bersama diri kita sendiri. Baik atau buruknya ahlak, kita sendirilah yang dapat mendidiknya. Tidak ada yang dapat kita andalkan dalam membentuk ahlak kita, selain diri kita sendiri.
Rajinlah mendengar kajian ilmu agama, agar setiap ilmu yang didengar sedikit demi sedikit dapat membentuk ahlak yang baik di dalam diri. Ketahuilah bahwa ahlak itu cerminan hati. Lalu apa yang ada di dalam hati akan ditunjukkan oleh tingkah laku.
Pernahkah kamu merasa hatimu sedang kesal hingga kamu melampiaskannya kepada benda-benda atau orang yang ada di sekitarmu?
Atau kekesalan dalam hatimu, membuat dirimu tiba-tiba kesal dan marah pada sesuatu hal kecil yang terjadi?
Itu karena tingkah laku manusia selalu mengikuti apa yang ada di hatinya. Apabila hatinya itu baik, maka tingkah laku yang ditunjukkan pasti juga baik begitupun sebaliknya.
Bagaimana caranya membentuk hati yang baik sehingga tingkah laku kita mengikutinya?
Berprasangka lah baik kepada hamba Allah yang lain, karena hal itu dapat melatih hati kita. Namun, kita harus selalu curigai diri kita sendiri.
Mengapa?
Karena setan selalu ada untuk menggoda manusia. Tipu daya setan itu sangatlah halus. Jika setan tidak bisa membuat kita melakukan hal-hal yang buruk karena iman kita cukup baik, maka ia akan membisikan hal-hal yang baik agar kita terjerumus ke dalam tipu dayanya.
Jadi, jangan pernah merasa aman dengan diri kita sendiri. Sekalipun kita telah melakukan amalan-amalan yang Allah cintai. Karena setan akan masuk pada celah kecil yang bisa membuat kita berbangga hati dan sombong.
Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri, ya Allah, apakah Allah ridho memiliki hamba seperti ku?
Hal itu dapat menjaga diri kita untuk tetap rendah diri di hadapan Allah tanpa berbangga hati.
Perbanyaklah istighfar agar tak berbalik arah, agar melindungi diri dari futur yang berlebihan. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bersandar kepadaNya.
Oleh karena itu, kenalilah dirimu sendiri, hatimu sendiri, jangan pernah merasa aman dari tipu daya setan dan hawa nafsu. Sebab hawa nafsu lebih keji daripada 70 setan yg membisiki.
Dalam kitab yang ditulis oleh ulama terdahulu, dijelaskan bahwa hawa nafsu terbagi menjadi 7:
1. Amarah, yaitu hawa nafsu yang memerintahkan kepada keburukan. Contoh sederhana, saat ada pilihan datang ke kajian atau pergi ke mall, nafsu ini akan memerintahkan diri kita untuk lebih memilih pergi ke mall, daripada menghadiri kajian yang pahalanya sangat besar.
2. Nafsu lawwamah, nafsu ini ada di tingkatan "mendingan" daripada nafsu amarah. Nafsu ini adalah nafsu yang suka menegur kalau kita ingin melakukan hal buruk.
Contoh: kita ingin mengerjai rekan kerja kita, namun tiba-tiba di dalam diri ada sesuatu yang mengingatkan, "jangan, jangan lakukan itu"
Jika di dalam hatimu telah ada bisikan seperti ini, maka kamu telah naik tingkatan nafsunya menjadi yang lebih baik.
3. Nafsu Mulhamah, nafsu ini adalah nafsu yang diilhami oleh Allah SWT.
4. Nafsu Muthmainah, yaitu nafsu yang jiwanya tak pernah berkobar dan tidak pernah kesal dengan org lain, karena ia tahu apapun yang terjadi di dunia ini sudah atas kehendak Allah.
5. Nafsu Rodiyah, pada tingkat ini yaitu nafsu yang selalu ridho dengan apapun yg ditakdirkan oleh Allah.
Contoh: mendapat kabar terburuk sekalipun ia akan mengatakan dengan hati ridho, "Alhamdulillah ya Allah apapun yang menjadi keinginanmu maka akan menjadi keinginan hamba juga."
6. Nafsu Mardhiyah, pada tingkatan ini, seseorang telah benar-benar mencintai Allah dan merasakan dunia ini hanya fana kecuali cinta kepada Allah.
7. Tak memiliki nafsu. Ini adalah tingkatan tertinggi dan hanya dimiliki oleh para nabi dan Rasul Allah.
Hamba yang berhasil adalah apabila ia setidaknya telah memiliki hawa nafsu yang ke-4, dimana ia selalu sabar menghadapi apapun yang ada di muka bumi ini.
Sulit? Tentu, kita diminta untuk tidak melawan ketika kita dibentak atau difitnah oleh orang lain. Kita diminta untuk bersabar meskipun hati kita sakit. Tapi, itulah pengorbanan yang dapat kita lakukan untuk Allah, sebagai seorang hamba yang berakhlak kepadaNya.
Sesungguhnya hidup di dunia ini adalah amanah dari Allah, untuk mencari keridhoan-Nya.
Waktu kita hidup di dunia menentukan nasib kita kelak di akhirat.
Selalu isi hati kita dengan Allah, karena apabila kita lupa dengan Allah, maka hati akan dikuasai oleh setan.
Barakallahu fiikum 🥰
Komentar
Posting Komentar