Patah (cerita pendek)

Hai perkenalkan, namaku Meisya. Aku adalah seorang mahasiswi di Universitas bergengsi pada kota ku saat itu. Saat menjadi mahasiswa baru, yang menjadi titik fokusku saat itu adalah bagaimana caranya agar aku dapat lulus dengan cepat. Namun siapa sangka, aku justru tersandung dengan urusan cinta yang membuatku lulus lebih lama.

"Meisya, lo ada salam," terdengar suara Reza teman sekelasku.

"salam apa sih?" tanyaku malas

"salam dari kakak tingkat kita, tuh orangnya," ucap Reza sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki yang sedang berdiri 5 meter dariku.

Lelaki yang menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna biru silver itu sedang menatapku kemudian ia tersenyum. entah apa arti senyumannya itu.

Aku tertegun, wajahnya begitu tampan menurutku. Tubuh yang tinggi dengan model rambut comma hair serta bola mata hitam pekat.

"Namanya Ervin, dia mahasiswa semester 5," ucap Reza lagi menjelaskan padaku

Aku menatapnya sebentar lalu kembali melihat ke arah lelaki yang bernama Ervin itu. "Kenapa dia nitip salam buat gue?" tanyaku heran

"Kalo itu gue ga tau sya, gue cuma nyampein pesen dari kak Ervin aja,"jawab Reza kemudian beranjak pergi

Ervin masih menatapku dari tempatnya berdiri membuat aku menjadi salah tingkah. Tanpa aku sadari ada sepasang mata dalam kelas sedari tadi menatapku. Aku tak sengaja melihatnya ketika aku menoleh ke belakang, tempatnya duduk.

"Lucky, kenapa dia menatapku?"batinku heran

Lucky adalah teman sekelasku. Aku cukup dekat dengannya karena ami sering mengerjakan tugas bersama. Karena dia pintar, ku sering sekali meminta bantuannya dalam mengerjakan tugas. Tidak ada masalah pada hubungan kami, tapi mengapa dia seperti tak suka melihatku saat ini?

Pulang kuliah seperti biasa aku bersama sahabatku, Wina. Kebetulan rumah kami memang searah. Aku menunggu bis di halte kampusku bersamanya. namun hari itu Ervin menghampiriku.

"hai," sapanya padaku.

"Aku Ervin," ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku

Aku membalas uluran tangannya. "Meisya," jawabku sambil tersenyum.

"Mu pulang ya? Bareng aku aja yuk, kebetulan aku juga mau pulang," tawarnya

"Maaf lain kali aja ya kak, aku ga mungkin ninggalin temen aku sendiri,"jawabku lembut.

"oke baiklah, lain kali aja kita pulang barengnya. kalo gitu aku duluan ya," ucapnya kemudian berjalan menuju mobilnya.

"Itu ka Kak ervan yang terkenal paling cool di kampus mei," tiba-tiba Wina bersuara

Aku menoleh ke arahnya. "Oh ya? aku ga tau win," jawabku

"Ah lo mah kudet banget dasar," sahutnya dengan tertawa

Lalu bis yang kami tunggu pun akhirnya datang

Ketika di rumah aku mendapati ponselku berdering. Saat ku lihat nomor yang tertera tidak memiliki nama. Aku ragu untuk mengangkatnya, aku takut itu adalah telpon yang menawarkan jasa kartu kredit. Tapi ternyata rasa penasaranku lebih besar daripada rasa takutku.Akhitnya aku angkat telpon itu.

"Halo," sapaku

"Hai Mei," jawab sang penelpon.

"Maaf siapa ini?" tanyaku

"Ervin, aku minta nomor kamu td pada Reza, nggak apa-apa kan?" tanya nya 

"Oh kak Ervin, nggak apa-apa kak, nanti aku save y nomorny,"sahutku

begitulah akhirnya kami mengobrol muli dari perkenalan diri masingmasing hingga membucarakan hobi. Oh ya ia mengajakku untuk pulang kuliah bareng besok dan aku menyetujuinya.

Hari demi hari kami lalui dengan sering bertemu. Dia sering mengantarku pulang ketika jam kuliah selesai. Ia juga beberapa kali mengajakku jalan walau hanya sekedar makan malam berdua.

Hari itu aku ada tugas dari dosenku yang menurutku susah sekali dikerjakannya. Aku menghubungi Lucky dan Wina untuk mengerjakan tugas itu bersama di rumahku. Namun Wina tak bisa hadir sehingga hanya Lucky lah yang datang ke rumahku.

"Lo lagideket sama Kak Ervin?" tanya nya di sela-sela belajar kami

"Entah, tapi bisa dibilang begitu,"jawabku

"Kenapa?"tanyaku menoleh ke arahnya. Ku lihat ada perubahan pada raut wajahnya.

"Ah nggak apa-apa," jawab Lucky

Sebenarny aku sedikit heran dengan ekspresi wajahnya, namun karena tugas kuliah ini meyulitkanku, maka aku fokus lagi untuk mengerjakannya. Selesai mengerjakan tugas, Lucky menghabiskan cemilan dan minumnya yang aku sediakan.

"gue pamit ya," ucapnya padaku sambil berdiri dan beranjak ke arah pintu.

"kalo lo jadian sama kak Ervin, kasih tau gue ya," ucapnya kemudian.

"Oke,"sahutku dengan tersenyum. Lalu Lucky pun pergi meninggalkan rumahku.

Tak lama dri Lucky pergi, aku mendengar pintu rumahku diketuk dari luar. Karena kamarku yang letaknya di sebelah ruang tamu, maka aku bisa dengan cepat membukakan pintu.

"hai Mei," sapa lelaki yang sedang berdiri di depan pintu sambil membawa sebucket bunga.

"Kak Ervin, kok ga bilang dulu mau kesini?" tanyaku

"Sengaja, mau kasih kejutan,"katanya sambil tersenyum

Lalu aku mempersilahkan ia masuk dan menawarkannya minum. Selesai aku membut minum, aku ke ruang tamu kembali untuk menemaninya.

"Udah selesai tugas kuliahnya?" tanya Ervin tiba-tiba

"Iya udah kak, kakak tau darimana aku abis ngerjain tugas?" tanyaku heran

Ervin tersenyum lalu menjawab," aku menunggu di depan sejak Lucky datang,"

"kenapa kakak ga masuk aja?" tanyaku sedikit terkejut.

"Aku ga suka berada dalam satu ruangan dimana ada sainganku disitu," ucapnya

Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Tapi aku tak mempermasalahkannya. Ku pikir saingan akademik, karena Lucky memang memiliki kepintaran di atas rata-rata. 

"Mei, apakah kamu adalah tipikal peempuan yang butuh ungkapan?" tanya Ervin padaku.

"Maksud kakak?" tanyaku

"Selama 2 bulan ini kita sudah sering bertemu, ngobrol, bahkan saling bertukar cerita tentang hobi serta keseharian kita, tidakkah kau merasa ini lebih dari sekedar teman?" tanya nya kembali

Aku yang mulai paham arah pembicaraanya pun tersenyum. "Iya aku tahu,"

"Jadi bagaimana perasaanmu padaku?" tanya nya

Aku tentu saja bingung mau jawab apa. Aku bilang suka? sayang? atau apa? ah aku ini perempuan, aku tidak berpengalaman dalam mengungkapkan perasaan.

"Selama ini aku menganggap kamu adalah kekasihku Mei, maaf jika ini menjadi sepihak,karena ku pikir hubungan dewasa itu tidak perlu mengatakan dengan gamblang, namun sepertiny tidak berlaku untuk kamu." jelasnya

Aku terkejut mendengarnya, mencoba mencerna setiap kalimat yang ia ucapkan. Jadi, apa yang harus aku katakan? batinku bingung.

"Bersediakah kau menerimaku menjadi kekasihmu Mei?" ucapnya lalu memberikan bucket bunga itu padaku

Aku tertegun. Untuk sesaat aku seperti melamun. Ah ya, Aku menyukainya sejak ia menitipkan salam padaku. Kurasa tidak ada alasan untukku menolak cinta yang telah aku genggam.

lalu kami pun meresmikan hubungan kami pada hari itu. Tak lupa kabar ini aku ceritakan ke Wina dan juga Lucky.

****

Suatu ketika aku pulang dari kursusku kemlaman. Aku mengikuti kursus komputer 2x dalam seminggu di sore hari.

Saat itu tidak ada taksi yang melintas di depanku, sudah setengah jam aku bediri tapi tak jua aku menemukan taksi. Lalu aku mengambil ponselku dan mengirimkan pesan kepada Ervin.

"Kak, bisa jemput aku? Aku ada di depan gedung kursus dan baru pulang jam segini". 

Begitulah kira-kira isi pesanku. Aku termasuk orang yang tidak sabaran, apalagi hari sudah malam dan teman-temanku yang lain sudah pulang. Karena tak kunjung mendapat balasan dari Ervin walaupun hanya sekitar 8 menitan, aku berinisiatif untuk mengirim pesan pada Lucky.

"Lucky, bisa jemput aku? Aku ada di depan gedung kursus dan baru pulang jam segini."

begitulah pesan yang ku kirimkan pada Lucky kurang lebih isinya sama dengan pesan kepada Ervin.

Dalam waktu 2 menit Lucku sudah membalas pesanku. "Oke gue otw sekarang, tunggu"

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama Lucky dan menunggunya. Tak lama dari itu ponelku berdering kembali. Aku membuka ponsel dan tertulis nama Ervin pda layarnya.

"Mei maaf aku bru buka HP, kamu tunggu disitu ya aku berangkat sekarang" Tulis ervin pada pesannya.

"Seketika aku bingun, Lucky sudah dijalan menjemputku, masa iya aku harus menelpon Lucky lalu menyuruhnya pulang lagi? Sedangkan ervin lagi bersiap-siap dan kemunginan belum berangkat. Aku masih bisa mencegahnya berangkat untuk menjempuku. Lalu aku membalas pesan Ervin.

"nggak usah jemput kak, aku udah dijemput Lucky, makasi ya" tulisku

Tak lama pesan ervin masuk.

"Lucky udah dateng?"

"belum"

"Lalu kenapa kamu membatalkan pulang bersamaku dan lebih memilih bersamanya?"

"maaf kak tapi Lucky udah dijalan, aku ga tega untuk bilang ga jadi"

"Tapi kamu tega mengatakan itu padaku"

Aku terdiam. Sungguh bukan itu maksudku. Lalu aku tulis balasan yang paling mungkin bisa diterima olehnya.

"Maaf sayang, aku ga bermaksud tega sama kakak, tapi kakak kan belum berangka sedangkan Lucky udah di jalan, kakak masih bisa untk ga jadi jemput, tapi kalo Lucky ga jadi jemput, dia harus balik lagi ke rumahnya."

"Ga ada jaminannya dia udah dijalan kan? Kenyataanya aku dan Lucky mau jemput kamu, tapi kamu lebih memilih Lucky, sebenarnya siapa pacar kamu disini?" tulisnya yang sepertinya sedang marah itu

Membaca itu aku tertegun. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku sepertinya ingin menghlang saja dari bumi ini, mengapa aku menyakitinya? laki-laki yang begitu mencintaku?

"maaf kak" hanya kata itu saja yang terucap olehku. Namun sepertinya Ervin sudah kecewa kepdaku sehingga ia tak berminat membalasku

itu adalah pertengkaran pertama kami.

Seminggu berlalu sejak kejadian itu Ervin tak pernah menemuiku ataupun menghubungiku. Aku begitu merindukannya, sampai akhirnya malam itu ia datang ke rumahku. Aku begitu bahagia melihat kedatangannya.

"kenapa kamu ga pernah menghubungi aku?" tanya nya

Aku hanya terdiam. Lalu dia melanjutkan kalimatnya

"kemarin ku liat kamu dijemput dengan laki-laki, siapa dia?"

"oh dia Dedi, tetanggaku, kebetulan saat itu dia lag di luar dan aku pulang kemalaman jdi aku minta jemput dia karena rumah kami dekat," jawabku

"kenapa ga minta jemput aku?"

"Aku pikir kakak masih marah padaku, jadi aku ga berani minta jemput kakak,"

"Lebih baik minta jemput aku daripada kamu harus pulang sama orang lain Mei, tak berfikir begitukah dirimu?"

"Maaf" 

"Berapa kali lagi aku harus mendengar kamu mengatakan maaf?"

Aku terdiam

"meskipun aku ga menghubungi kamu, tapi aku tau seminggu ini apa saja yang kamu lakukan, dikampus, dan dirumah Mei. Aku tau dengan siapa saja kamu pulang kuliah dan pulang kursus," ucapnya padaku.

"Kakak tau darimana?" tanya ku

"Aku ngikutin kamu, bahkan setiap kamu pulang kursus, akuudah ada di depan tempat kursusmu. Aku menunggu kau menelponku untuk memintaku menjemputmu. Aku ta mau jika kmu meminta jemput Lucky lag hanya karena aku lama tak membalas pesanmu. Tapi yang aku lihat kamumalah dijemput lelaki yang tak aku kenal." ucapnya menjelaskan

"Aku bahkan di belakang motor kalian kemarin malam," tambahnya

Aku tertunduk, tidak tahu harus mengatakan apa.

"egitu sulitnyakah bagimu untuk menurunkan egomu mei? sedikit saja? haruskah aku seperti mengemis perhatianmu? aku kekasihmu mei, mendapatkan perhatian dan prioritas dari kamu adalah hak ku, mengapa kamu begitu egois?"

"Maaf"

"Harus berapa kali aku bilang jangan hanya minta maaf, tapi lakukanlah sesuatu mei, lakukan sesuatu agar hubungan ini bertahan," ucapnya dengan marah.

"berubahlah mei, jika kau mencintaiku, turunkan egomu padaku," ucapnya lagi sambil beranjak pergi.

Aku hanya terdiam melihatnya pergi. Dalam hati aku merutuki diriku, kenapa aku selalu meninggikan egoku? kenapa sulit sekali menurunkannya sedikit saja?? bukankah aku mencintainya? tapi kenapa aku tak mampu membuatnya merasa nyaman di sisiku?

********



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana berakhlak kepada Allah

Berubah